
Lahir dan tumbuh di Kabupaten Balangan—sebuah wilayah yang dikenal dengan julukan "Bumi Sanggam" (Sanggup, Bagawi, Guna, Gasan, Masyarakat). Filosofi kearifan lokal ini membentuk karakter pendidik yang memiliki daya juang tinggi dan kedekatan emosional. Semangat luhur inilah yang saya bawa sebagai prinsip dasar dalam mendampingi psikologis remaja untuk menemukan potensi terbaik mereka.
Merespons fenomena remaja digital yang rentan krisis keberhargaan diri akibat self-comparison. Tujuan saya adalah hadir sebagai fasilitator penyembuhan emosional dan pembimbing yang mampu merestrukturisasi pemikiran negatif siswa menjadi potensi yang memberdayakan.
Analisis komprehensif layanan Bimbingan Klasikal terintegrasi dengan media interaktif pada SMP Negeri 4 Alalak.
Berdasarkan Need Assessment (DCM), 7 siswa teridentifikasi mengalami krisis self-esteem. Layanan kuratif ini bertujuan meningkatkan keberhargaan diri melalui 3 siklus konseling kelompok guna mereduksi pemikiran irasional.
Menggunakan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) teknik Cognitive Restructuring. Diperkuat dengan kerangka Model A-B-C dan integrasi psikologis media interaktif.
Siklus 1, 2, dan 3
Asas Kerahasiaan Konseling
Media inovatif (Wheel of Self-Esteem) dapat dicoba langsung pada simulasi interaktif di bawah ini.
Penilaian terintegrasi oleh Guru Pamong dan Dosen Pembimbing Lapangan selama 3 Siklus.
"Menciptakan iklim ekologis sekolah yang sadar kesehatan mental, di mana setiap siswa merasa aman, divalidasi, dan didukung penuh. Saya berkomitmen menjadi fasilitator yang membekali mereka dengan keterampilan regulasi emosi mandiri."
Mendengarkan tanpa menghakimi, namun tetap rasional (CBT).
Merancang media interaktif yang relevan dengan generasi digital.
Meregulasi emosi diri sebelum meregulasi emosi peserta didik.
Melakukan riset PTBK berkelanjutan untuk menguji layanan.