loader image
E-Portfolio UAS | M. Ayub, S.Pd - Refleksi Akhir
Refleksi Akhir PPL Terbimbing

Merawat Potensi,
Membangun Ketangguhan.

Halo, saya M. Ayub, S.Pd, Mahasiswa PPG Calon Guru Bimbingan dan Konseling Universitas Lambung Mangkurat. Saya berasal dari Kecamatan Anjir Pasar, Kabupaten Barito Kuala. Sebuah wilayah yang identik dengan harmoni kehidupan masyarakatnya dan ketangguhan aliran kanal penghubungnya. Filosofi konektivitas inilah yang menjadi prinsip dasar saya dalam mendampingi psikologis remaja untuk bangkit dan menemukan potensi terbaik mereka.

M. Ayub, S.Pd
Media Inovasi Utama

Wheel of Self-Esteem

Asistensi Mengajar

Refleksi Pelaksanaan PPL

Analisis kritis praktik Konseling Kelompok (Siklus I) dengan topik "Menjadi Sahabat Bagi Diri Sendiri" di SMP Negeri 4 Alalak.

Hambatan Awal

Berdasarkan realisasi di lapangan, saya menemukan kesulitan pada tahap awal konseling. Anggota kelompok yang terindikasi memiliki masalah self-esteem rendah cenderung sangat pasif, tertutup, dan kebingungan dalam mengutarakan perasaannya. Hal ini menjadi tantangan besar untuk memancing mereka agar berani terbuka.

Solusi Pendekatan CBT

Menghadapi kebuntuan tersebut, saya menerapkan pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) melalui strategi yang terstruktur:

  • Analogi "Kacamata Buram": Apersepsi ini sangat berhasil memudahkan siswa memahami bahwa perasaan minder mereka muncul karena cara pandang yang negatif, bukan karena fakta sesungguhnya.
  • Lembar Kerja A-B-C: Untuk mengatasi kebingungan berbicara, media ini membantu siswa memecah masalah secara tertulis (Kejadian, Pikiran, Konsekuensi). Setelah ditulis, mereka menjadi lebih berani bercerita tanpa merasa dihakimi.
  • Media Wheel of Self-Esteem: Mengadaptasi prinsip gamifikasi untuk memecah kebekuan. Roda putar interaktif ini menurunkan pertahanan diri siswa sehingga proses konseling terasa seperti permainan yang aman.

Umpan Balik Guru Pamong & Tindak Lanjut

Umpan balik yang saya terima berfokus pada aspek konselor. Tantangan internal bagi saya adalah keharusan untuk segera meningkatkan keterampilan komunikasi non-verbal (mengelola intonasi suara, bahasa tubuh, dan pemilihan kata).

Rencana Tindak Lanjut: Ke depannya, saya akan terus berlatih dan memohon arahan terkait strategi komunikasi yang efektif bagi Guru BK pemula. Tujuannya adalah agar saya dapat memancarkan wibawa dan memberikan rasa aman, serta mampu memandu dinamika kelompok secara terarah tanpa membuat siswa merasa sedang diintimidasi atau sekadar dinasihati.

Ideologi & Paradigma

Filosofi Mengajar

Berangkat dari kearifan lokal tempat saya berasal, Kecamatan Anjir Pasar, saya memaknai profesi guru layaknya fungsi sebuah kanal (anjir). Kanal ini tidak hanya menyambungkan wilayah yang terpisah, tetapi juga menjaga aliran kehidupan agar tetap dinamis dan tangguh menghadapi berbagai kondisi alam. Filosofi konektivitas dan ketangguhan ini beresonansi kuat dengan Teori Humanistik Carl Rogers, yang meyakini bahwa setiap manusia memiliki dorongan alami untuk berkembang menuju versi terbaik dirinya (*actualizing tendency*). Sebagai Guru Bimbingan dan Konseling, peran saya adalah menjadi penghubung yang menjembatani siswa dengan kesadaran diri mereka sendiri. Dengan menghadirkan unconditional positive regard (penerimaan tanpa syarat), saya berupaya menciptakan ruang batin yang aman bagi siswa untuk merangkul kerentanannya tanpa rasa takut akan penghakiman.

Dalam ruang praktik, paradigma humanistik tersebut saya tajamkan melalui kerangka Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Pengalaman menangani kelompok siswa yang pasif dan tertutup menyadarkan saya bahwa akar keputusasaan mereka sering kali tidak terletak pada realitas itu sendiri, melainkan pada cara kognisi mereka mendistorsi realitas tersebut. Hal ini saya representasikan melalui analogi "Kacamata Buram". Pendidikan bimbingan yang saya rancang tidak bertujuan untuk menghapus masalah siswa, melainkan membimbing mereka untuk melepas kacamata yang buram tersebut. Dengan bantuan instrumen seperti Lembar Kerja A-B-C dan Wheel of Self-Esteem, saya melatih siswa untuk menstrukturkan pikiran mereka secara logis. Kemampuan untuk mengidentifikasi dan menantang pikiran negatif otomatis adalah keterampilan regulasi emosi mandiri yang paling esensial.

Perjalanan memandu dinamika kelompok ini juga menjadi cermin refleksi bagi diri saya sendiri. Saya menyadari bahwa wibawa seorang konselor tidak lahir dari dominasi tutur kata, melainkan dari ketepatan komunikasi non-verbal, seperti intonasi yang menenangkan dan bahasa tubuh yang mengayomi. Tantangan ini memotivasi saya untuk terus belajar dan menjadi guru pembelajar sepanjang hayat. Ideologi profesional saya bermuara pada dedikasi untuk tidak sekadar menjejalkan motivasi kosong, melainkan menyediakan strategi yang terukur agar siswa mampu merekonstruksi keyakinan dirinya. Menjadi Guru BK adalah komitmen untuk merawat potensi yang terserak dan membangun ketangguhan jiwa generasi penerus.

"Kita tidak bisa membersihkan pemandangan yang buruk, tetapi kita bisa membantu siswa membersihkan kacamata buram yang mereka kenakan."

M. Ayub, S.Pd Calon Guru Bimbingan dan Konseling

Instrumen Penilaian Pamong

Dokumen resmi penilaian terintegrasi (Rancangan Perangkat & Praktik Mengajar) oleh Guru Pamong dan Dosen Pembimbing Lapangan selama PPL Terbimbing.

© 2026 E-Portfolio Pendidikan Profesi Guru (UAS).