loader image
E-Portfolio UAS | Nina Febriana, S.Pd - Refleksi Akhir
Refleksi Akhir PPL Terbimbing

Mengelola Diri,
Memfasilitasi Potensi.

Halo, saya Nina Febriana, S.Pd, Mahasiswa PPG Calon Guru Bimbingan dan Konseling. Saya lahir dan besar di Berangas, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, kampung halaman para pembuat jukung di tepian Sungai Barito. Menjadi Guru BK bagi saya sama seperti seni membuat perahu. Saya bertugas mengenali potensi setiap siswa dan membimbing mereka dengan sabar, agar nantinya mereka menjadi pribadi yang tangguh saat berlayar di kehidupannya masing-masing.

Nina Febriana, S.Pd
Media Inovasi Utama

Wheel of Self-Esteem

Asistensi Mengajar

Refleksi Pelaksanaan PPL

Analisis kritis praktik Konseling Kelompok dan Bimbingan di sekolah menengah.

Pelajaran Selama Tahapan PPL Terbimbing

Selama menjalani tahapan PPL Terbimbing dari awal hingga akhir, pembelajaran yang saya peroleh adalah pengalaman langsung dalam menganalisis data hasil asesmen kebutuhan peserta didik dan menyusun rencana pemberian layanan konseling kelompok berdasarkan urgensi dari hasil asesmen yang telah dianalisis tersebut yakni berkaitan dengan isu self-esteem. Selain itu, ketika akan melaksanakan PTBK sebelum memberikan layanan, langkah yang paling krusialnya adalah menentukan pendekatan dan teknik intervensi agar tujuan yang ingin dicapai dalam layanana tepat sasaran dalam membantu konseli mengatasi permasalahannya. Melalui penerapan pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dengan teknik restrukturisasi kognitif, saya melihat bagaimana intervensi yang terencana ini efektif untuk membantu peserta didik mengubah pandangan negatif (distorsi kognitif) menjadi pikiran yang lebih adaptif.

Pengalaman Menantang dan Solusi

Tantangan yang saya alami ketika melaksanakan konseling kelompok pada siklus 3 adalah bagaimana membangun dinamika kelompok yang hangat dan akrab dengan anggota kelompok. Solusi yang saya lakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memberikan ice breaking bertema "bom pikiran" pada kegiatan awal, yang sekaligus berfungsi sebagai jembatan penghubung (apersepsi) dengan materi pada pertemuan sebelumnya serta memberikan apresiasi setelah mereka berhasil membalas "bom pikiran" dengan pernyataan yang positif. Selain itu, kami juga memanfaatkan media utama kami yaitu Wheel of Self-Esteem untuk memecah kebekuan suasana. Di akhir sesi, setelah anggota kelompok menyusun komitmen dan langkah-langkah untuk mempertahankan pemikiran positif, saya memfasilitasi mereka untuk saling memberikan afirmasi positif kepada temannya melalui sticky notes. Sticky notes tersebut diharapkan dapat menjadi sumber semangat dan dukungan (peer support), serta dapat dibaca kembali ketika mereka sedang merasa tidak baik-baik saja.

Umpan Balik dan Saran Konstruktif

Dalam hal memandu dinamika kelompok, umpan balik konstruktif yang saya terima adalah saran untuk tampil lebih rileks dan terus berlatih mengelola rasa gugup. Umpan balik ini menjadi catatan penting bagi saya menuju tahap PPL Mandiri. Sebagai seorang guru, saya dituntut mampu menjaga semangat dan antusiasme karena energi dan pembawaan seorang guru dapat mempengaruhi dinamika dan partisipasi peserta didik selama proses layanan berlangsung.

Ideologi & Paradigma

Filosofi Mengajar

Prinsip utama saya adalah melakukan pendekatan yang hangat dan berpusat pada peserta didik (student-centered). Saya meyakini bahwa setiap anak dengan segala keunikan dan potensinya berhak mendapatkan layanan bimbingan dan konseling yang memanusiakan manusia. Hal ini sejalan dengan teori Person-Centered Therapy dari Carl Rogers yang menekankan pentingnya empati, penerimaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard), dan keaslian (congruence) dari seorang konselor. Saya percaya bahwa ketika peserta didik merasa diterima dan aman secara emosional mereka akan lebih terbuka untuk mengembangkan potensi diri dan menyelesaikan masalahnya.

Selain mengedepankan pendekatan yang humanis, saya juga meyakini bahwa layanan bimbingan dan konseling harus adaptif, inovatif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, ketika melihat Guru Pamong mengintegrasikan teknologi serta literasi-numerasi dalam layanan klasikal, saya merasa termotivasi. Tujuannya adalah agar ke depannya saya juga mampu untuk mengintegrasikan hal serupa ke dalam layanan sehingga peserta didik tidak hanya memiliki kecerdasan emosional, tetapi juga kecakapan hidup untuk menghadapi dunia nyata. Pendekatan ini relevan dengan teori belajar Konstruktivisme dari Vygotsky di mana peran saya sebagai Guru BK adalah memberikan scaffolding atau bantuan terarah agar peserta didik dapat mencapai pemahaman baru dan logis terkait masa depan mereka.

Terakhir, saya meyakini bahwa Guru BK adalah agen model (role model) dalam hal pengelolaan emosi dan perilaku. Pengalaman saya mengenai pentingnya regulasi emosi saat memandu konseling kelompok menyadarkan saya bahwa energi, antusiasme, dan ketenangan seorang guru dapat menular kepada peserta didik. Hal ini sesuai dengan Social Learning Theory dari Albert Bandura di mana individu belajar melalui observasi dan pemodelan dari figur pendidik. Oleh karena itu, filosofi jangka panjang saya adalah terus belajar dan meregulasi diri agar saya senantiasa mampu memancarkan energi positif, memberikan suasana yang hangat, dan menjadi katalisator bagi perkembangan kognitif dan perilaku peserta didik.

"Setiap anak dengan segala keunikan dan potensinya berhak mendapatkan layanan bimbingan dan konseling yang memanusiakan manusia."

Nina Febriana, S.Pd Calon Guru Bimbingan dan Konseling

Instrumen Penilaian Pamong

Dokumen resmi penilaian terintegrasi (Rancangan Perangkat & Praktik Mengajar) oleh Guru Pamong dan Dosen Pembimbing Lapangan selama PPL Terbimbing.

© 2026 E-Portfolio Pendidikan Profesi Guru (UAS).

```