
Berasal dari Kecamatan Anjir Pasar, Kabupaten Barito Kuala—sebuah wilayah yang identik dengan harmoni kehidupan masyarakatnya dan aliran kanal penghubungnya. Filosofi ketangguhan (resiliensi) dan konektivitas dari daerah inilah yang saya bawa sebagai prinsip dasar dalam mendampingi psikologis remaja untuk menemukan potensi terbaik mereka.
Merespons fenomena remaja digital yang rentan krisis keberhargaan diri akibat self-comparison. Tujuan saya adalah hadir sebagai fasilitator penyembuhan emosional dan pembimbing yang mampu merestrukturisasi pemikiran negatif siswa menjadi potensi yang memberdayakan.
"Pendidikan sejati tidak hanya tentang mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi memvalidasi emosi dan membimbing hati peserta didik."
Analisis mendalam berdasarkan rubrik UTS terkait implementasi konseling kelompok dengan media Wheel of Self-Esteem di SMPN 4 Alalak.
Tantangan utama adalah merancang instrumen/media yang tidak kaku (dogmatis) namun tetap memuat unsur terapeutik yang mendalam. Pada awal siklus (Siklus I), dinamika kelompok cukup menantang karena remaja awal cenderung pasif, malu, dan memiliki mekanisme pertahanan diri (*defense mechanism*) yang tinggi untuk terbuka mengenai pikiran negatif mereka.
Produk ini mengadopsi pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dengan teknik Cognitive Restructuring (restrukturisasi kognitif). Konsep ini dipadukan dengan prinsip Gamifikasi pada media Wheel of Self-Esteem untuk memanipulasi situasi terapeutik menjadi arena bermain, sehingga siswa lebih relaks dalam mengidentifikasi Model A-B-C (*Activating Event, Beliefs, Consequences*).
Faktor keberhasilan utama (terlihat di Siklus II dan III) adalah inovasi media interaktif roda putar yang bersifat non-threatening. Selain itu, aktivitas bertukar afirmasi menggunakan sticky notes berhasil mengoptimalkan peer support (dukungan teman sebaya), yang berfungsi sebagai antitesis psikologis yang sangat kuat terhadap dampak buruk perbandingan sosial di media sosial.
Jika diterapkan pada Bimbingan Klasikal (kelas besar), roda putar fisik dapat diadaptasi menjadi Digital Spin Wheel yang ditampilkan via proyektor. Lembar identifikasi pikiran negatif (Model A-B-C) juga dapat dikerjakan melalui diskusi studi kasus fiktif secara berkelompok, alih-alih identifikasi masalah personal yang terlalu mendalam, guna menjaga efisiensi waktu dan privasi dalam kelas besar.
Dokumen Lengkap Siklus 1, 2, dan 3
Asas Kerahasiaan Konseling
Media inovatif (Wheel of Self-Esteem) dapat didemonstrasikan langsung pada simulasi interaktif di bawah ini.
Lampiran 7 & 8: Penilaian terintegrasi (Rancangan Perangkat & Praktik Mengajar) oleh Guru Pamong dan Dosen Pembimbing Lapangan selama 3 Siklus.
"Menciptakan iklim ekologis sekolah yang sadar kesehatan mental, di mana setiap siswa merasa aman, divalidasi, dan didukung penuh. Saya berkomitmen menjadi fasilitator yang membekali mereka dengan keterampilan regulasi emosi mandiri."
Mendengarkan tanpa menghakimi, namun memandu secara rasional (CBT).
Merancang media konseling yang relevan dengan generasi digital.
Meregulasi emosi diri secara matang sebelum menangani peserta didik.
Melakukan riset PTBK berkelanjutan untuk menguji efektivitas layanan.